Monthly Archives: Mei 2010

Knoppers, snack from Germany

About a month ago, my friend’s girlfriend brought us Knoppers, snack from Germany. This is the description from their official website,

Knoppers er en mælk og hasselnød snitte, med en lækker sprød vaffel bagt med 1/3 del fuldkornshvedemel, fyld med lækker nougatcreme og sprøde ristede hasselnødder.
Knoppers den ideelle snack – når det er tid til afslapning, eller når der er brug for ny energi.
En sand opskrift på succes.
Knoppers har været et succesfuldt brand i Tyskland siden 1983.
Siden da, har flere og flere nydt den lækre snack, i Danmark siden 1995. I dag nydes Knoppers af både gammel og ung i mange europæiske lande.

Okay, for someone who doesn’t know germany, lets say Knoppers is a  milk and hazelnut -filled waffle square and is ideal for a snack in between. A balanced composition of ingredients with a wonderfully fresh and delicious taste. From me, one word : Delicious!


Kenapa (saya) bayar pajak?

Mungkin euforia pembahasan mafia pajak sudah jauh terlewat, namun saya tetap akan menyoroti betapa penting membayar pajak. Akhir-akhir ini fenomena mafia pajak membuat semua orang malas membayar pajak, pemikiran yang menurut saya tidak benar. Sama seperti ketika melihat ada kotoran dalam bak mandi, lalu kita memutuskan untuk tidak mandi. Pada awalnya mungkin tidak terlalu terlihat efeknya, namun apabila dilakukan secara terus-menerus apalagi berjamaah dengan yang lainnya akan menimbulkan bencana besar baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Mayoritas warga Indonesia terlalu mudah dikompori oleh pemberitaan media mengenai sejumlah oknum sehingga melupakan esensi utama dari pajak itu sendiri. Menurut Wikipedia,

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang —sehingga dapat dipaksakan— dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.

Agak ribet definisinya, intinya sih pajak itu untuk kesejahteraan umum -bukan perseorangan seperti kata media. Pajak sendiri akan dimasukkan ke dalam kas negara lalu akan didistribusikan sesuai dengan APBN, diantaranya untuk fasilitas dan infrastruktur, subsidi pangan dan bbm, pelayanan kesehatan, pendidikan, dsb. Sebagai manusia yang makan, tinggal, dan beraktivitas di atas tanah negara Indonesia maka sudah sewajibnya kita melakukan kewajiban untuk membayar pajak, demi kesejahteraan diri kita, masyarakat, bangsa, dan negara.

Btw ini beberapa skrinsut ketika saya membayar pajak di kantor pajak di sebelah BEC, jalan purnawarman, Bandung.

1. Pengisian SPT, wajib pajak menghitung sendiri pajaknya

2. Menuju drop box terdekat *rameee -.-

3. Mengambil nomor antrian dan mengisi amplop SPT *antrian ke 464, nomer cantik 😀

3. Tanda terima SPT, disimpen buat jaga-jaga kalo bermasalah

4. Akhir dari pengantrean yang panjang dan melelahkan *selamat makaaan >.<

WP = Wajib Pajak = Wahyu Prihandono *lol*


Bright sky in our (new) library

Seperti biasa setiap minggu aku harus mengikuti rapat di gedung PAU. Kebetulan letak gedung berhadapan langsung dengan perpustakaan pusat ITB. Sebelumnya tidak pernah terjadi sesuatu yang menarik perhatianku -selain pasangan mahasiswa yg kepergok bercinta- pada gedung perpustakaan tua yang sering dipelesetkan sebagai kamar mandi terbesar di ITB karena temboknya yang seluruhnya dilapisi keramik tersebut. Namun seiring dengan rehabilitasi besar-besaran yang dilakukan pihak kampus ITB, sekarang tiap melewati depan gedung perpustakaan akan terlihat fenomena yg cukup menarik. Bukan dari bentuk gedung perpustakaan yang terlihat asimetris ataupun komposisi warna tembok baru yang memperlihatkan bahwa setiap saat gedung dapat berubah menjadi salah satu personil autobot yang siap menyelamatkan dunia. Adapun langit di belakang gedung pada saat cerah terlihat begitu indah, seakan mengalahkan kebesaran gunung tangkuban perahu pada sisi utara maupun barisan atap khas ITB pada arah selatan. Aura gedung seakan membelah langit menciptakan barisan awan-awan sebagai salah satu kebesaran ciptaan Tuhan YME. Namun apakah fenomena ini ada hubungannya dengan peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan, kita hanya bisa berharap -.-

*credit for AjiGPS


PALAPA : past, recent, and the future

I remember the first time i heard about PALAPA. Starting from the design traditions of project by every generation. At that time, the status of 2005 which is still the youngest in Electrical Engineering, inspired by what has been done by the Iskandar Alisjahbana which brings many benefits to society. Palapa team determined to do the same.Through the process of brainstorming and literature studies, decided that they would hold the development of electricity networks with a specialization-scale hydroelectric pikohidro. Pikohidro own scale related to the amount of kW produced under 10 kW. Recently PALAPA has now developed into a technology that can not be underestimated. PALAPA will compete with 15 other finalists in The 2010 IEEE Presidents’ Change the World Competition. Taken from their official website :

PALAPA : Development of an Energy, Economy and Health Independent Region in Indonesia

Team Members

Mohammad Ikhsan (lead); Ramadhani Wahono; Giri Kuncoro; Ferdaus Ario Nurman

It was the generosity, the kindness, and the spirit from one man that sparked the beginning of this unforgettable journey. This man, the man we called Pak (Mr.) Mamo, sold noodles in our campus. Everyday, he would come to our student organization with the weight of his stove, ingredients, and, of course his noodles, all, carried on his shoulder. But, everyday he would come with his spirit and his smile. It was Pak Mamo who showed us that outside our campus wall, there were still thousands of villages who did not enjoy the basic infrastructures as those in our city. A two hour drive followed by two more hours on foot took us to his village in Garut, Indonesia. A village whose children still slept by candle light at night, whose sick had to travel the whole four hours to get proper health care, and did not have proper access to books and educational facility.

After our first visit there, we were determined to return for another visit. Next time, we would bring a change in the form of our project, PALAPA. Our project focused on solving the problems that many villages faced in Indonesia, poor infrastructures that include electricity, health care, sanitation and education. Overall, these problems affected the general welfare of the village and in Pak Mamo’s village the welfare was very low. Through the implementation of multiple engineering disciplines, we were determined to increase the welfare of the village and the region around it.

University

Bandung Institute of Technology

In the future i hope PALAPA will be able to inspire other students to perform community development which will be useful for developing our country. At last, congratulation for Bang Mamo, the first noodle seller that enter IEEE site 😛