Salat tarawih di Salman jadi “cepat”?

Bagi yang sudah cukup familiar dengan salat tarawih di mesjid Salman mungkin akan menyadari bahwa pada bulan Ramadhan tahun ini jamaah akan mendapati bahwa salat tarawih dan witir selesai sekitar pukul 20.30 waktu Salman. Jadi apakah dapat disimpulkan bahwa tahun ini salat tarawih di Salman menjadi sedikit lebih “cepat”? Saya pribadi sendiri lebih suka menyebutnya lebih “ringkas”, karena konotasi lebih “cepat” lebih terbayang sebagai suatu kegiatan yang terburu-buru, sungguh sama sekali tidak dianjurkan terutama ketika beribadah.

Shalat Isya sendiri dimulai sekitar pukul 19.00, dilanjutkan ceramah, tarawih dan witir. Imam membaca AlFatihah dengan tempo standar, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan makhraj dan tajwid yang baik dan benar. Yang mungkin terasa berbeda adalah pemilihan bacaan setelah AlFatihah, walaupun masih berkaitan dengan juz yang sesuai dengan penanggalan Ramadhan tapi tidak lagi dibaca secara keseluruhan, hanya awalnya saja itupun beberapa ayat. Tahun lalu hal ini juga pernah diterapkan dengan harapan sisa juz akan dihabiskan pada saat shalat wajib maupun pengajian pengurus, namun tahun ini bacaan itu pun terasa makin ringkas. Hal lain adalah jeda antar tarawih yang barangkali ditiadakan, namun karena saya belum mengetahui hadist mengenai bacaan/kegiatan saat jeda maka hal ini dapat saya terima.

Adapun kebijakan ini saya dengar sekilas ketika disosialisasikan oleh pengurus ba’da subuh. Ketika itu sudah banyak komplain diantaranya dari rektor ITB yang keberatan mengenai lamanya tarawih di Salman. Sebagai informasi, kebijakan bacaan salat tarawih biasanya satu juz yang dibagi menjadi delapan rakaat tarawih setiap harinya. Untuk mahasiswa angkatan lama mungkin tidak menjadi masalah karena kebiasaan mereka tarawih di Habiburrahman, namun beberapa tahun belakangan terjadi fenomena massa kampus tidak tertarik berjamaah tarawih di Salman lantaran terlalu lama akibat bacaan yang terlalu panjang. Kejadian menarik tahun lalu dimana penceramah yang hadir adalah Bapak Hatta Rajasa dalam kapasitasnya sebagai salah satu menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu hanya dihadiri oleh jamaah hingga 3 saf terdepan yang terisi. Cukup miris dibandingkan era beliau masih berkuliah dimana mesjid selalu penuh sesak dipenuhi mahasiswa, bahkan jika baru akan berangkat pukul 19.00 dipastikan tidak dapat memasuki ruang utama mesjid karena penuhnya.

Sesuai dengan visi dari P3R tahun ini, untuk memfasilitasi berbagai keinginan dari jamaah maka dilakukanlah beberapa perubahan fundamental diantaranya dengan meringkas bacaan shalat tanpa mengurangi kekhusyukan shalat serta memfasilitasi mesjid dengan mushaf AlQuran sehingga jamaah akan merasa berada di rumah sendiri. Strategi ini cukup berhasil dilihat dari animo massa kampus yang tinggi untuk beribadah dan meramaikan kegiatan-kegiatan di mesjid. Tidak ada yang berubah secara fisik dari mesjid Salman, namun dengan perubahan zaman dan heterogenitas mahasiswa ITB sudah selayaknya Salman senantiasa berbenah demi melayani dan memfasilitasi jamaahnya.

mesjid salman itb

Iklan

About imelwa


6 responses to “Salat tarawih di Salman jadi “cepat”?

  • zecho

    begetto toch.. blon prnah ngikut taraweh di situu, hhe., pengen ke Salman agee..

  • Asop

    Seperti di Masjid Agung Surabaya dong, tetap menggilir satu jus setiap hari, tapi diurut dari subuh dapet bagian terpanjang, berkurang hingga pendek di saat tarawih. Jadi, subuh bacaannya panjang, tarawih bacaannya pendek-pendek.
    Dibandingin ama masjid Cipaganti Bandung, 23 rakaat di Masjid Agung sama dengan 8 rakaat di Cipaganti. ๐Ÿ˜ฆ Jam delapan sampe setengah sembilan di Masjid Agung udah 23 rakaat, di Cipaganti jam segitu masih delapam rakaat. ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: