Challenge #3: Creepy Story

Keadaan makin mencekam. Kupikir menyelesaikan pekerjaan di lab adalah hal yang yang baik, namun jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi dan teman-teman masih belum juga kembali dari acara jalan-jalan yang biasa mereka lakukan tiap malam minggu. Aku sengaja menghindari acara jalan malam ini karena janji untuk menyelesaikan tugas kuliahku sebelum hari minggu. Dengan keadaan lab yang sepi aku dapat lebih berkonsentrasi dengan rangkaian kabel maupun byte-byte biner yang makin malam semakin menekan urat syarafku.

Terdengar suara gaduh dari atap. Tikus mungkin. Posisi dudukku di sudut ruangan membuatku dapat mengamati segala penjuru tempat jika mungkin ada penyusup yang mencoba masuk. Suhu ruangan semakin dingin, kendati jendela dan pintu terkunci rapat namun seperti ada sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding malam ini. Masih terngiang cerita miring mengenai orang-orang yang pernah melihat mahluk halus di lorong gedung, namun aku bukan tipe orang yang mudah percaya dengan sesuatu yang belum pernah kulihat dengan mata kepala sendiri.

Gelap! Sial, ini sama sekali bukan waktu yang tepat untuk mati listrik. Bukankah ini kampus teknik dengan label terbaik se-Indonesia, tapi mengapa masih saja tidak mampu menangani permasalahan sederhana seperti ini. Tidak ada waktu untuk menggerutu, mungkin aku harus mencari senter atau alat penerangan lain sebelum teman-teman datang. Hey tunggu, apakah mereka akan datang dengan keadaan gelap gulita seperti ini? Akan lebih baik jika mengambil alas tidur dan bantal, berbaring sambil menunggu listrik kembali menyala. Okay, kurasa itu ide bagus.

Jam 2 pagi, dan belum ada tanda-tanda listrik akan menyala. Sms datang menginformasikan bahwa teman-teman memutuskan kembali ke rumah masing-masing, jadi tidak akan ada yang berkunjung malam ini. Pintu diketuk. Okay, ini ketiga kalinya pintu lab diketuk. Kupikir dengan tidak menjawab dua ketukan saja orang akan mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang ingin dikunjungi pada malam gelap seperti ini namun ketukan ketiga membuatku berpikir bahwa mungkin ada seseorang di luar sana yang benar-benar ketakutan dan membutuhkan pertolongan. Kubuka pintu dan tak ada siapapun di luar sana. Lorong yang gelap terlihat tak berujung, hanya sesekali sinar bulan memberi pencahayaan si salah satu ujungnya.

Ketukan lagi! Kali ini di pintu ujung lorong. Aku tidak mungkin salah dengar, namun sedikit keraguan muncul, bagaimana jika yang kutemui nanti bukanlah sosok yang aku harapkan. Kutepis khayalan anak kecil, berjalan sedikit cepat ke ujung lorong untuk membuka pintu. Tidak ada orang. Tidak ada apa pun, hanya gelap dan sebersit cahaya bulan purnama yang menerangi lorong. Tunggu, di tangga. Ada sesuatu di tangga! Bukan, itu seseorang. Menatapku dengan tatapan tajam. Tidak, tidak ada apapun disana. Apa yang terjadi, kenapa dingin sekali disini! Kepalaku terasa begitu sakit.

Aku berlari secepat mungkin menuju ruanganku. Begitu mencekam, lorong yang kulalui seperti tanpa ujung. Aku tidak berlari menoleh ke belakang, yang kulakukan hanya berlari secepat yang kubisa. Aku kembali ke ruanganku, ke tempat yang semestinya. Kukunci pintu, memasang alas tidur dan selimut, berusaha memejamkan mata. Seharusnya aku tidak mengikuti kata hatiku, sok ingin tahu seperti aktor dalam sinema misteri –dan kalian tahu apa yang terjadi pada aktor tersebut, tidak pernah berakhir baik. Jendela ruangan memantulkan cahaya bulan. Tidak, orang itu lagi! Ia berada di pintu ruangan, aku dapat melihatnya dari cermin di mejaku. Bagaimana mungkin ia dapat masuk ke dalam. Kupikir aku telah mengunci ruangan rapat-rapat. Dia bergerak mendekat. Semakin dekat. Aku menutup selimut rapat-rapat. Ia berdiri di ujung kakiku. Aku bisa mengintip dari bawah selimutku. Oh tidak ada dua, bukan tiga orang di belakangnya. Mereka mulai menarik selimutku. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah mengepalkan tangan dan siap menyambut apapun yang terjadi. Selimut pun tersingkap. Bau amis menyeruak.

Silau! Mataku belum siap menerima perubahan ini. Kepalaku begitu pening. Listrik menyala. Aku berteriak kegirangan. Tunggu, tak ada seorang pun di ruangan ini. Aku masih ingat bagaimana orang-orang itu berusaha mengejarku, menarik selimut, dan mereka hilang begitu saja. Tidak, mungkin aku baru saja bermimpi dan tersadar. Keadaan malam ini membuat siapapun dapat mengalami halusinasi. Jam menunjukkan pukul 4.30, saatnya bersiap menunaikan ibadah subuh. Aku pun membuka pintu ruangan, menyusuri lorong menuju kamar mandi. Kulihat tangga diterangi sinar lampu. Terang benderang.

Aku menyalakan air keran, kubasuh wajah hingga ubun-ubun kepalaku. Merah dan hangat. Ada apa ini? Kepalaku berdarah, sejak kapan? Kepalaku mulai terasa agak pusing. Bau amis. Sayup-sayup aku mendengar pintu kamar mandi menutup dengan keras. Gelap, lampu padam kembali! Hanya sinar rembulan yang memantul melalui ventilasi. Sekelebat bayangan terlihat pada cermin di ujung kamar mandi, orang itu lagi! Aku terpojok. Banyak sekali, mereka banyak sekali, memegang tangan dan kakiku. Dingin, ngilu, itu yang terakhir kurasakan. Silau, dan aku pun hilang kesadaran.

*korban mutilasi di kampus terus bertambah. Satuan pengamanan memperlakukan jam malam bagi para mahasiswa dan dosen yang biasa bekerja hingga larut malam. Hingga kini belum diketahui siapa pelaku maupun motif kejahatan kriminal ini.

Iklan

About imelwa


4 responses to “Challenge #3: Creepy Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: