Terlalu banyak berpikir

Akhirnya berakhirnya Februari Abu menuju Maret Ceria, hahaha. Cuma satu post yang tercipta bulan lalu, melanjutkan tren buruk jurnalisme bebas ala karyawan swasta yang sedang menikmati hingar bingar kerasnya ibukota. Setidaknya berusaha tidak menyalahkan tampilan baru yang berkesan dingin sehingga menjadi lamban dalam menyajikan info terbaru, namun setelah melalui proses kontemplasi dan root cause finding selama kurang dari 5 menit diputuskan bahwa permasalahan utama yang begitu klasik kembali akan dikedepankan. Jreng. Terlalu banyak berpikir.

Padahal sudah ditulis besar-besar mengenai setengah dari azas utama penulisan yaitu untuk tidak berpikir namun seringkali ego dan perasaan bermain sedemikian hingga otak harus berpikir mana yang harus dibagikan kepada publik dan mana yang hanya menjadi bunga tidur saja, namun kembali lagi semua sudah terjadi. Salah satu buku kreatif yang baru saja saya baca dan mungkin tidak akan saya bahas lebih dalam adalah jadilah anak kecil. Setuju karena anak kecil bermain jauh lebih baik dibandingkan orang dewasa. Panasnya kota di siang hari mungkin membuat saya menjadi terlalu cepat dewasa. Well selalu ada titik balik menuju titik nol, selalu ada tombol reset dalam setiap smartphone, dan ada sumpit kayu ketika masak di hanamasa terasa mulai membosankan. Oke ayo lanjutkan permainannya, kali ini dengan penutup mata, hahaha

come on fight me like a seafood

come on fight me like a seafood

Iklan

About imelwa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: