Kelakuan Kucing Jakarta

Kerasnya kehidupan ibukota tidak hanya membuat para penduduk merasa gerah dan lelah namun juga cenderung mengarahkan seseorang untuk berpikir pendek dan berani. Lihat saja mulai dari warga yang menolak relokasi, kasus pengemudi kendaraan yang suka menabrak segala hal, hingga yang paling hangat belakangan ini adalah ulah sekelompok oknum pendukung sepakbola yang melakukan penyerangan terhadap tim Persib yang notabene masih nu aing, sedih memang.

Namun kali ini kita akan menyoroti kelakuan salah satu warga lokal ibukota yang kadang sering kita temui di pinggir jalan hingga kolong meja rumah makan. Sebut saja namanya kucing, mahluk satu ini yang pernah saya pelajari di SMA masuk ke dalam genus felis memiliki ciri berkaki empat berekor satu berkumis dan suaranya meong-meong (dengan berbagai variasi). Seperti kucing domestik di kota besar pada umumnya hidup mereka cenderung bergantung pada kemurahan hati manusia yang senantiasa memberi makanan, atau paling buruk adalah mengais-mengais sisa makanan di tempat sampah. Hal ini berdampak pada makin meningkatnya jumlah tikus got dengan populasi dan ukuran yang makin menjadi-jadi yang pada zaman dahulu kala menjadi mangsa alami mereka. Kadangkala sempat terpikir apakah pada zaman reformasi seperti sekarang peta politik hewan pun mulai bergeser sehingga kucing pun dapat melakukan aliansi terbatas dengan musuh bebuyutannya seperti dalam kisah Tom and Jerry untuk mengalahkan Spike. Yang pasti fakta berbicara, anjing sulit ditemui di Jakarta.

Kembali ke kucing, kedekatan mereka terhadap manusia membawa dampak sendiri. Mereka mulai bertingkah semena-mena, mulai dari mengeong-ngeong di tengah malam buta sampai berkelahi dengan satpol pp. Oke yang terakhir memang tidak sepenuhnya benar, namun aku akan share salah satu pengalaman buruk dengan kucing. Di tengah malam mencekam, udara begitu dingin disertai angin kencang dari exhaust fan terdengar suara ember sampah depan kamar terbanting dengan keras. Mengendap-endap aku pun mengintip dari balik pintu. Benar dugaanku ini adalah ulah kucing liar milik pengusaha kosanku. Sejak beberapa malam aku sudah mencurigainya bakal menyatroni tempat sampahku, kebetulan malam ini menunya adalah pecel lele. Tanpa rasa bersalah dia mengambil seekor lele dari tempat sampahku, dengan keadaan tubuh lele nyaris tanpa sehelai dagingpun, kemudian diletakkan diatas keset welcome kamarku yang baru dicuci. Segera sebelum dia sempat menikmati kelezatan mantan makan malamku, langsung saja kubuka pintu dan membekuk dia. Terjadi perdebatan sengit namun aku tidak bisa mengerti karena yang bisa kudengar hanya suara meong-meong. Klimaks habis kesabaranku langsung saja kulayangkan kaki dengan maksud menyuruhnya kembali ke jalan yang lurus tapi yang kudapat jauh dari apa yang kubayangkan. Kucing mengeluarkan belati dari balik celana jeans biru dongkernya dan seketika menusuk kakiku. Sakit. Darah mengucur dimana-mana, sehingga kuputuskan untuk mundur. Kucing, hari ini kau beruntung namun esok hari makan malamku tidak akan ada lagi untukmu. Aku akan makan di warteg, tidak pake bungkus!

kucing

Aksi penggerebekan disertai barang bukti. Cat you are doomed!

kaki

Hasil visum positif korban senjata tajam

Iklan

About imelwa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: