Kisah Islami: Penaklukan Samarkand

Sebelumnya cerita ini disarikan dari kajian yang penulis ikuti berjudul perkembangan islam di abad pertengahan, serta dengan menambahkan beberapa referensi dari internet. Penulis berlindung kepada Alloh SWT dari segala kesalahan penulisan ataupun beberapa hal yang mungkin tidak sesuai dengan sejarah aslinya, semata-mata adalah khilaf dari penulis dengan segala keterbatasannya.

Alkisah pada masa khilafah Umar bin Abdul Aziz – cicit dari Umar Bin Khattab RA, pemerintahan dinasti Umayyah sekitar tahun 98H, pasukan Islam sedang gencarnya mengadakan penaklukan ke arah Timur melewati beberapa daerah salah satunya adalah Samarkand yang sekarang terletak di tengah negara Uzbekistan. Penaklukan dipimpin komandan perang yang terkenal yakni Qutaibah bin Muslim Al bahili. Pada mulanya penduduk Samarkand memuja patung dan berhala, sehingga penaklukan lebih ditujukan untuk menyelamatkan dan mengislamkan Samarkand. Pasukan Islam memasuki kota pada malam hari ketika penduduk tengah tertidur lelap sehingga penaklukan dilakukan dengan cepat tanpa adanya pertumpahan darah dan perlawanan berarti.

Namun setelah penaklukan, penduduk Samarkand mengetahui bahwa komandan perang Islam tidak menerapkan prosedur dari Nabi Muhammad SAW, bahwa ketika kaum muslimin ingin menaklukan suatu wilayah, mereka akan menawarkan 3 pilihan kepada penduduk daerah tersebut yaitu menyeru kepada Islam, membayar Jizyah, atau berperang. Penduduk Samarkand kemudian mengutus para pendeta untuk bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi kaum muslimin untuk mengadukan hal tersebut.

Para pendeta berbulan-bulan mengadakan perjalanan darat dari Samarkand (Uzbekistan) menuju Damaskus (Suriah) hingga sampai ke pusat kota. Mereka terkagum-kagum melihat kebesaran peradaban kaum muslim dengan Masjid yang megah dan ornamen yang indah. Mereka menyaksikan banyaknya jamaah ketika sholat dan menyimpulkan pasti pemimpin kaum muslimin memiliki istana yang jauh lebih besar. Namun yang didapati adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang membetulkan tembok rumahnya yang kecil dan sederhana bersama dengan istrinya, jauh sekali dari apa yang ada di benak mereka. Ketika mereka mengadukan perihal penaklukan Samarkand yang menyalahi prosedur, Khalifah Umar bin Abdul Aziz hanya menulis perintah sederhana di atas secarik kertas untuk mengadakan peradilan bagi komandan perang Qutaibah dan meminta para pendeta memberikan surat tersebut kepada hakim yang memimpin Samarkand pada saat itu.

Pulanglah para pendeta dengan terheran-heran, hanya membawa secarik kertas dengan tulisan atas nama Khalifah apakah mungkin bisa menyeret komandan perang muslim ke pengadilan. Mereka kembali melakukan perjalanan panjang pulang ke Samarkand dan menyerahkan surat tersebut kepada hakim yang telah diutus untuk memimpin Samarkand sepeninggal Qutaibah yang melanjutkan ekspansi ke arah timur. Membaca surat dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hakim langsung memerintahkan kurir untuk membawa Qutaibah kembali ke Samarkand. Selang beberapa bulan kemudian sampailah Qutaibah beserta pasukannya. Pengadilan pun dimulai dan tidak sampai lima menit kemudian keputusan dicapai. Secara garis besar hanya terjadi beberapa percakapan sbb:

Pendeta: wahai hakim, sesungguhnya komandan kaum muslimin Qutaibah bin Muslim telah masuk ke negeri kami tanpa memberi kami tawaran yang berlaku atas kami, sebagaiman setiap negeri diberi peringatan terlebih dahulu untuk tunduk pada Islam, membayar Jizyah, atau berperang. Akan tetapi kali ini mereka tidak menawarkan kepada kami.

Hakim: wahai Qutaibah , apakah yang mereka dakwahkan kepadamu benar adanya?

Qutaibah bin Muslim: Semoga Allah memperbaiki urusan qadhi. Perang itu tipu muslihat. Samarkan adalah negeri kuat telah menjadi penghalang pembebasan (futuhat). Aku tahu, jika kami saling berperang, darah akan mengalir seperti derasnya air sungai. Kemudian Allah menunjukiku pada strategi ini. Dengan penyergapan ini kami telah menjaga darah kaum Muslimin dan juga darah musuh kami. Ya, kami telah menyergap mereka secara tiba-tiba. Kami telah menyelamatkan mereka dan mengenalkan mereka kepada Islam.

Hakim: Wahai Qutaibah, apakah Anda telah mengajak mereka terlebih dahulu kepada Islam, membayar jizyah atau berperang?

Qutaibah bin Muslim: Tidak, tapi kami langsung menyergap mereka karena bahaya mereka sebagaimana yang telah aku sampaikan pada Anda.

Hakim: Wahai Qutaibah, engkau telah mengiyakan apa yang didakwakan maka selesailah persidangan ini. Maka aku putuskan, dalam waktu tiga hari, engkau harus segera perintahkan seluruh tentara kaum Muslim untuk keluar dari Samarkand dengan ringan sebagaimana saat kalian memasukinya. Dan menyerahkan kembali Samarkand kepada warganya dan memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan persiapan perang. Hal itu sebagai bentuk pelaksanaan dari hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Setelah pengadilan selesai, maka dalam 3 hari ribuan pasukan muslim ditarik hingga tidak tersisa satu pun di dalam kota Samarkand. Para penduduk terheran-heran dengan seakan tidak percaya menyaksikan ketaatan kaum muslimin terhadap pemimpinnya. Pengadilan yang dilakukan benar-benar lugas dan adil, menunjukkan kesempurnaan dari agama yang mereka peluk. Maka beramai-ramailah penduduk Samarkand masuk Islam dengan menyebut kalimat Syahadat mengiringi kepergian pasukan Qutaibah dari Samarkand.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S An Nisa : 59).

Sumber:

Kajian MTXL : Perkembangan Islam di abad pertengahan
http://chirpstory.com/li/6817
http://kebangkitanislam.com/index.php/68-pemuda-islam/347-qutaibah-bin-muslim-cermin-komandan-yang-cerdik-dan-taat
http://zikripunya.blogspot.com/2012/10/pemerintahan-dinasti-umayah.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim_conquests
http://en.wikipedia.org/wiki/Qutayba_ibn_Muslim
http://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand
http://abukarimah.wordpress.com/tag/tafsir-surat-an-nisa-59/
Iklan

About imelwa


3 responses to “Kisah Islami: Penaklukan Samarkand

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: