Tag Archives: review

SOEDIRMAN – Seorang Panglima, Seorang Martir

Saya bukan penggemar berat buku sejarah, namun melihat cover salah satu tokoh yang saya kagumi membuat saya tidak berpikir panjang untuk membeli bukunya. Judulnya SOEDIRMAN – Seorang Panglima Seorang Martir, merupakan salah satu seri buku TEMPO yang mengulas tokoh militer. Adapun sumbernya kebanyakan diambil dari buku-buku lain yang telah mengupas kehidupan sang jendral besar serta beberapa keterangan dari saksi hidup, salah satunya adalah putra bungsunya sendiri. Bahasan dimulai dari awal beliau dipilih menjadi panglima besar dengan menyisihkan beberapa nama seperti Oerip Sumohardjo dan Amir Sjarifoeddin hingga sepak terjangnya dalam peperangan di Ambarawa yang melambungkan nama besarnya. Dikisahkan pula mengenai latar belakang masa kecilnya hingga dewasa dan meninggal dunia karena penyakit paru, serta bagaimana kiprah beliau di bidang politik. Yang menarik adalah seluruh pembahasan diceritakan dengan gamblang, beberapa diantaranya mungkin merupakan fakta lama sementara yang lain mungkin bisa berbeda dengan yang biasa kita pelajari pada bangku sekolah.

“Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit!” – Jendral Soedirman.

Jendral Soedirman sendiri sudah saya kagumi sejak pertama kali membaca sejarahnya ketika sekolah dasar. Dijelaskan dalam keadaan sakit parah dengan keadaan ditandu beliau bergerilya memimpin perang – suatu sikap jantan dari seorang jendral besar yang mampu menghalau pasukan inggris yang notabene jauh lebih kuat dan berpengalaman. Setelah membaca buku ini makin jelas tergambar bagaimana karakter dari sang Jendral dengan ketegasannya menolak segala kompromi bahkan dengan Presiden Soekarno sendiri, namun kesetiannya pada negara membuat beliau tetap bersikap profesional sebagai prajurit sejati. Jendral Soedirman sendiri digambarkan sebagai manusia biasa yang mempunyai emosi, menunjukkan kasih sayang kepada istrinya, serta sekuat apapun akhirnya takluk oleh penyakitnya sendiri. Sebuah pribadi yang patut diteladani dan dicontoh oleh pemuda Indonesia saat ini.

soed

Iklan

Review: 40 Days in Europe

Saya memang bukan penggemar novel, namun jika sampai ada yang terbaca habis maka tidak ada salahnya di-share mudah-mudahan bisa membawa manfaat. Judulnya adalah 40 Days in Europe buah karya Maulana M Syuhada. Novel ini ditemukan secara tidak sengaja di stand buku-buku stok sisa (yang rajin ke gramedia bandung pasti tahu tempatnya), uniknya novel ini letaknya tersembunyi di dalam tumpukan buku anak-anak. Saat ditemukan buku ini terlihat lusuh namun karena tinggal satu dan terlihat cukup berharga saya coba untuk membaca secara ringkas. Walau judulnya berbahasa inggris, namun isinya menceritakan perjalanan perjalanan kelompok paduan angklung SMA 3 Bandung berkeliling Eropa. Lebih menarik lagi ketika membaca salah satu tokoh dalam cerita yaitu Desiree adalah senior saya di kampus sehingga tanpa keraguan saya menebus novel tersebut seharga Rp25000 -cukup murah mengingat bukunya tebal hardcover walau sedikit lusuh.

Inilah kisah 35 musisi asal Indonesia yang tak pernah menyerah meskipun didera bencana keuangan dan bahkan terancam batal berangkat ke Eropa. Pada titik ekstrem semua kesulitan mereka berujung pada pilihan yang tak mungkin: menggelandang di Eropa atau pulang dengan berenang melewati selat Inggris!

Walaupun tertatih, kelompok seniman yang membawa misi Expand the Sound of Angklung ini terus menebar pesona di seantero Eropa. Berbagai kota mereka taklukkan. Semua terkesan. Semua takjub. Lalu…tangis pun pecah saat lagu “Indonesia Raya” mengalun pelan di senyapnya sudut-sudut kota Eropa.

Beberapa hal yang dipetik dari kisah nyata dalam novel ini, jangan pernah putus asa dengan keadaan yang ada, dengan doa dan kerja keras segala hal pasti dapat diselesaikan. Sangat menginspirasi.

40 Days in Europe


Review: Departures (2008)

Barusan iseng mencet-mencet remote tivi, berhenti di MetroTV karena melihat ada tayangan film jepang. World Cinema  : Departures, itu text yang terpampang di pojok kanan layar. Baru tau kalau ternyata MetroTV juga menayangkan film jepang selain berita-berita dan informasi pengetahuan. Walaupun tidak mengikuti dari awal, namun tetap mencoba untuk menikmati tayangan tersebut. Tidak disangka jam menunjukkan pukul 23.30, tepat ketika film tersebut selesai. Komentarku: bagus! Sejak terakhir menonton “one liter of tears”, aku memang tidak lagi mendapati cerita yang cukup membuat nafas naik turun selain cinta klise maupun kekerasan dan balas dendam, namun tayangan barusan cukup membawaku kembali ke zaman jejepangan 😛

Dikisahkan bahwa Daigo Kobayashi adalah seorang pemain cello yang baru diterima pada sebuah orkestra, namun setelah pertunjukan perdananya orkestra tersebut dibubarkan karena kesulitan dana. Selanjutnya kupikir dia akan bekerja keras membentuk orkestra baru, mencari dana, dan sebagainya, namun tidak diduga ia memutuskan menggantung cello(?) dan mencari pekerjaan baru. Disinilah cerita bermula ketika ia diterima di sebuah perusahaan profesional yang mengurusi pemakaman (yang awalnya ia pikir sebagai perusahaan travel, lol). Pada awalnya ia mengalami tantangan berat, mulai dari ketidakbiasaannya mengurusi mayat orang mati, hingga penolakan yang ditunjukkan oleh istrinya, orang yang paling disayanginya. Hal yang menarik adalah bagaimana Daigo tetap berusaha untuk menekuni pekerjaannya dengan penuh kebanggaan dan profesionalisme yang tinggi, sehingga seakan membawanya sebagai penghubung antara orang yang meninggal dengan keluarga yang ditinggalkan melalui upacara pra-pemakaman khas jepang. Hingga pada suatu ketika ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mengurusi pemakaman seseorang yang paling ia benci sepanjang hidupnya: ayahnya sendiri!

Berbagai macam intrik yang terjadi menjadikan film ini layak sebagai tontonan wajib terutama bagi orang yang merasa jauh dari kerabat atau ditinggalkan oleh orang yang dicintainya, bahwa selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha dan bekerja keras. FYI, barusan ngecek di IMDB, ternyata memang nominasi academy awards dengan rating 8,1/10. Untuk aku sendiri, kuberikan 8/10 (karena engga nonton dari awal). Nice movie 🙂

departures

credit picture from Yahoo!